Wednesday, November 15, 2017

Berebut limbah Freeport hingga separatisme jadi motif KKB teror Papua



Bola206Kawasan Tembagapura, Papua memanas. Baku tembak antara aparat dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Sabinus Waker sejak Sabtu (21/10) lalu. Agen bola terpercaya

Akibat baku tembak, personel Brimob Briptu Berry Pratama meregang nyawa. Selain mendiang Briptu Berry, tujuh anggota Brimob Polda Papua lainnya menderita luka tembak.Bandar Sabung Ayam (LIVE)

Tidak sampai di situ. Kelompok tersebut juga menebar teror di tengah warga. Mereka nekat berpura-pura menjadi pembeli yang kemudian memerkosa si penjaga warung hingga membakar kios warga.Agen Sabung Ayam

Yang terbaru, KKB menyandera ribuan warga sipil di kawasan Kimberly hingga Banti, Distrik Tembagapura, Papua. Padahal, lokasi tersebut hanya berjarak 300 meter dari Polsek tembagapura.Sabung Ayam Online

Kelompok itu nekat menjadikan warga sebagai tameng untuk menghindari serangan dari aparat.Sabung Ayam

Alhasil, warga dilarang beraktivitas bahkan untuk mencari bahan makanan saja tidak boleh.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian angkat bicara. Jenderal bintang empat ini mengakui jika KKB Sabinus Waker merupakan 'pemain lama' di Papua.

Motifnya ekonomi hingga menyerempet ke aksi separatisme. Beberapa di antara anggota KKB kerap bekerja sebagai pendulang emas, bergabung bersama warga lainnya.

Mereka mendulang emas di Kali Kabur, buangan dari Freeport.

"Memang ada beberapa kelompok bersenjata di sana. KKB kalau kami sebut, kelompok kriminal bersenjata. Sebenarnya kelompok lama ya. Pada saat saya Kapolda Papua juga, ada kelompok itu, tapi mereka bersama-sama dengan pendulang disana. Disitu kan di bawah Freeport ada kali kabur," ungkap Kapolri kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis (9/11).

Kapolri melanjutkan ada sekitar 8 hingga 10.000 pendulang liar yang terdiri dari warga lokal maupun pendatang. Namun, di antara pendulang tersebut disusupi kelompok bersenjata.

"Mereka (kelompok bersenjata) sebenarnya mendulang juga. Tapi kadang mereka melakukan kekerasan kepada pendulang liar ini. Memang ada permasalahan sosial ini karena bertahun tahun ribuan orang sudah mendulang di situ, di kali Kabur ini. Hasil limpahan dari Freeport namanya teling."

Namun, belakangan ini kelompok bersenjata yang juga berkerja sebagai pendulang tersebut menyerang polisi yang berjaga di Freeport.

"Anggota kami ada yang tertembak dan jadi korban. Oleh sebab itu, Pak Kapolda, Pak Pangdam berkoordinasi untuk melakukan langkah-langkah penegakan hukum dengan cara-cara yang soft, negosiasi, juga dengan mengedepankan tokoh agama dan adat termasuk langkah-langkah penegakan hukum. Termasuk juga saya dapat laporan dari Pak Kapolda Papua, Pak Asops juga sudah kesana, kekuatan pasukan dari Kalteng."

Medan yang sulit dan kerap dilanda cuaca ekstrim menjadi kendala petugas untuk meringkus KKB.

"Ini memang karena di sana medan agak sulit ya, karena pegunungan ya dan hutan. Modus yang paling sering dilakukan adalah, para pendulang ini dijadikan tameng. Jadi yang dikatakan penyanderaan itu adalah para pendulang yang kemudian dijadikan tameng. Sebenarnya enggak banyak kelompok ini, paling 20 atau 25 orang."

"Senjatanya lima sampai sepuluh pucuk. Mereka menggunakan metode hit and run. Kami dan TNI akan diperkuat dan dilakukan pengejaran di sana. Sambil juga soft aproach, negosiasi dilakukan dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat di sana," tandasnya.

0 comments:

Post a Comment